Slideshow

Tampilkan postingan dengan label Pesantren. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pesantren. Tampilkan semua postingan

10 Apr 2012

Sejarah Berdirinya Darul Mujahadah

Perintisan mengenai berdirinya Lembaga Pendidikan Pondok Peantren Darul Mujahadah berawal dari ”gagasan H. Ali Ma’muri, BA beliau berasal dari desa Margasari kecamatan margasari kabupaten Tegal dan beliau adalah salah satu alumnus Pondok Pesantren Modern Dasrusalam Gontor pada tahun 1978. Gagasan beliau adalah mendirikan Lemabaga Pendidikan Islam yang berupa Pondok Pesantren Modern di desanya sendiri, akan tetapi karena berbagai hal ide itu belum dapat diwujudkan. Meskipun demikian hasrat untuk mendirikan Lembaga Pendidikan Islam yang berupa Pondok Pesantren Modern di kampung halamannya itu tidak pernah padam.
Kemudian di lain pihak pada akhir tahun depan puluh satuan, para orang tua/wali Murid se-Jawa Tengah, yang tergabung dalam Ikatan Wali Murid Pondok Pesantren Wali Songo Ngabar juga mempunyai gagasan untuk mendirikan pesantren di Jawa Tengah. Gagasan itupun lagi-lagi mengalami kegagalan. Satu di antara orang tua/wali Murid tersebut adalah seorang purnawirawan ABRI yang berdomisili di dukuh Kesambi desa Prupuk Selatan Kabupaten Tegal bernama Muhammad Barmawi, rupanya setelah secara kolektif mengalami kegagalan justru menimbulkan semangat baru untuk mendirikan pesantren di kampung halamannya sendiri. Apalagi kebetulan ada tanah miliknya seluas 2.500 m2 yang berlokasi di dukuh Kampung Baru desa Prupuk Kabupaten Tegal.” Memang seorang purnawirawan tersebut mempunyai niat dan hasrat yang sangat kuat, tetapi untuk mendirikan pesantren tidak serta merta segera terwujud, maklum saja karena ia bukanlah sosok seorang kyai yang mumpuni untuk kelak dapat memimpin sebuah pesantren. Ketika mengalami kebuntuan mencari figur kyai, ibarat pucuk dicinta ulampun tiba, H. Ali Ma’muri, BA mendengar informasi tentang hal ini, kemudian ia mencoba menghubungi seorang teman yang juga alumnus Pondok Modern Gontor, bernama H. Asrori Muhtarom yang ketika itu sedang mengabdi (ikut mengajar) di Pondok Pesantren Darunnajah Jakarta, beliau mengabdi di Pondok Pesantren Darunnajah Jakarta selama kurang lebih 15 tahun. H. Ali Ma’muri menyampaikan informasi itu dan mengatakan, bahwa di desa Prupuk ada tanah yang akan diwakafkan untuk keperluan pendirian Pondok Pesantren, dan kalau saja ada yang bersedia untuk memimpin pesantren itu maka akan segera diupayakan langkah-langkah selanjutnya. Pada kesempatan itu pula H. Ali Ma’muri meminta kesediaan temannya untuk berjuang memimpin pesantren di kampung halamannya, ternyata H. Asrori Muhtarom yang juga putra asli Margasari dan konon punya cita-cita ingin hidup dan mati di tengah-tengah Murid menerima tawaran tulus temannya itu. Setelah ada kesanggupan dari H. Asrori Muhtarom maka berhimpunlah beberapa tokoh masyarakat (kelak menjadi pengurus badan pendiri/ pengurus yayasan), bermusyawarah untuk menindaklanjuti gagasan pendirian pesantren. Pertemuan pertama para tokoh itu diadakan di kediaman Muhammad Sayyidi Margasari. Pertemuan itu menghasilkan kesepakatan dan kesepahaman untuk mendirikan Pondok Pesantren di desa Prupuk di atas tanah wakaf Muhammad Barmawi. Sebagai langkah awal adalah membentuk yayasan yang akan menaungi pesantren tersebut. Maka dipersiapkan rancangan anggaran dasar yayasan tersebut. Pertemuan berikutnya diadakan pada hari Kamis, tanggal 27 Desember 1990. Pada pertemuan itu rancangan anggaran dasar yayasan disempurnakan. Sesuai dengan keinginan dan musyawarah Yayasan dengan Pimpinan Pondok maka terbentuklah sebuah lembaga pendidikan Islam yang telah diberi nama Pondok Pesantren Darul Mujahadah. Kata “Darul Mujahadah” dibuat oleh KH. Asrori Muhtarom dengan melihat bahwasanya Beliau ingin agar Madrasahnya mempunyai persamaan kurikulum pembelajaran dengan Pondok Pesantren Darussalam Gontor Jawa Timur. Dengan menginginkan sebutan Pondok alumni Darussalam Gontor, maka dipakailah kata “Daar” (mayoritas Pondok Pesantren yang memilki kata “daar” adalah Pondok alumni Darussalam Gontor). Dan kata “Mujahadah” diartikan ke dalam bahasa Indonesia berarti “sungguh-sungguh”, kata tersebut diperoleh agar seluruh murid yang belajar di madrasah tersebut dapat belajar dengan sungguh-sungguh. Oleh karena Pondok Pesantren Darul Mujahadah berada di bawah naungan Yayasan Pondok Pesantren Darul Mujahadah maka namanya pun diperoleh darinya, menjadi Pondok Pesantren Darul Mujahadah. Atas usulan H. Asrori Muhtarom, disepakati nama yayasan ”Darul Mujahadah” yang berarti tempat perjuangan (sungguh-sungguh). Dan akhirnya yayasan itupun terbentuk dan berbadan hukum dengan Akta Nomor 55 pada seorang notaris di Tegal bernama Harjono Moekiran, SH. tertanggal 13 Februari 1991 Setelah yayasan memiliki azas legalitas, maka digalilah dana untuk keperluan pembangunan pesantren. Selama dua tahun, pembangunan asrama dan ruang belajar diprioritaskan, kemudian menyusul pembangunan kamar mandi, WC dan tempat wudlu. Pada tahun 1992 telah berhasil dibangun 2 (dua) unit bangunan masing-masing 3 (tiga) lokal untuk asrama dan ruang belajar serta 1 (satu) unit bangunan MCK (Mandi, Cuci, Kakus) Untuk melaksanakan langkah awal maka pada tahun 1992 guna memasuki tahun pelajaran 1992/1993 mulailah dibuka pendaftaran Murid pertama. Pada tahun pertama itu hanya ada sekitar 30an anak yang mendaftarkan diri sebagai Murid, dengan jumlah putra-putri yang berimbang. Dalam hal perkembangannya dikarenakan seiring dengan perjalanan waktu yang terus berjalan maka untuk menyeimbangkan perkembangannya, Madrasah Tsanawiyah Darul Mujahadah terus mengadakan usaha-usaha dalam hal peningkatan, baik lahan, bangunan maupun jenjang pendidikannya. Semuanya guna untuk meningkatkan mutu pendidikannya untuk bersaing dengan lembaga pendidikan lainnya. Dan sejalan dengan perkembangan sarana fisik, kapasitas Madrasah Tsanawiyah sampai saat ini telah mampu menampung murid mukim sejumlah 123 anak. Seiring dengan terus berjalannya waktu dari tahun ke tahun terus senantiasa mengalami peningkatan dalam hal penerimaan murid baru, namun senantiasa disesuaikan dengan kapasitas sarana prasarana yang ada, sebab sejak awal Pondok Pesantren ini berdiri, seluruh Murid wajib mukim di asrama, meskipun rumah mereka ada di sekitar pesantren. Hal ini tentunya didasarkan pada pertimbangan struktur, mekanisme, pengelolaan operasional, dan pelaksanaan fungsi lembaga pendidikan pesantren yang muaranya adalah peningkatan efektivitas dan efisiensi dalam pembangunan pendidikan secara menyeluruh, sesuai kebijakan pendidikan yang ditetapkan oleh pemerintah. Lembaga Pendidikan Pondok Pesantren Darul Mujahadah selanjutnya membuka Madrasah Tsanawiyah dan Madrasah Aliyah yang sampai saat ini telah menelurkan banyak alumnus yang tersebar ke berbagai universitas negeri dan swasta

8 Des 2010

Motto Pondok

Pendidikan PONDOK PESANTREN DARUL MUJAHADAH menekankan pada pembentukan pribadi mukmin muslim yang berbudi tinggi, berbadan sehat, berpengetahuan luas dan berpikiran bebas. Kriteria atau sifat-sifat utama ini merupakan motto pendidikan di Pondok Modern Darussalam Gontor.

1. Berbudi tinggi
Berbudi tinggi merupakan landasan paling utama yang ditanamkan oleh Pondok ini kepada seluruh santrinya dalam semua tingkatan; dari yang paling rendah sampai yang paling tinggi. Realisasi penanaman motto ini dilakukan melalui seluruh unsur pendidikan yang ada.

2. Berbadan Sehat
Tubuh yang sehat adalah sisi lain yang dianggap penting dalam pendidikan di Pondok ini. Dengan tubuh yang sehat para santri akan dapat melaksanakan tugas hidup dan beribadah dengan sebaik-baiknya. Pemeliharaan kesehatan dilakukan melalui berbagai kegiatan olahraga, dan bahkan ada olahraga rutin yang wajib diikuti oleh seluruh santri sesuai dengan jadwal yang telah ditetapkan.

3. Berpengetahuan Luas
Para santri di Pondok ini dididik melalui proses yang telah dirancang secara sistematik untuk dapat memperluas wawasan dan pengetahuan mereka. Santri tidak hanya diajari pengetahuan, lebih dari itu mereka diajari cara belajar yang dapat digunakan untuk membuka gudang pengetahuan. Kyai sering berpesan bahwa pengetahuan itu luas, tidak terbatas, tetapi tidak boleh terlepas dari berbudi tinggi, sehingga seseorang itu tahu untuk apa ia belajar serta tahu prinsip untuk apa ia manambah ilmu.

4. Berpikiran Bebas
Berpikiran bebas tidaklah berarti bebas sebebas-bebasnya (liberal). Kebebasan di sini tidak boleh menghilangkan prinsip, teristimewa prinsip sebagai muslim mukmin. Justru kebebasan di sini merupakan lambang kematangan dan kedewasaan dari hasil pendidikan yang telah diterangi petunjuk ilahi (hidayatullah). Motto ini ditanamkan sesudah santri memiliki budi tinggi atau budi luhur dan sesudah ia berpengetahuan luas.

22 Feb 2009

Panca Jiwa Pondok

SELURUH kehidupan di PONDOK PESANTREN DARUL MUJAHADAH didasarkan pada nilai-nilai yang dijiwai oleh suasana-suasana yang dapat disimpulkan dalam Panca Jiwa sebagai berikut;

1.Jiwa Keikhlasan
Jiwa ini berarti sepi ing pamrih, yakni berbuat sesuatu bukan karena didorong oleh keinginan untuk mendapatkan keuntungan tertentu. Segala perbuatan dilakukan dengan niat semata-mata untuk ibadah, lillah. Kyai ikhlas medidik dan para pembantu kyai ikhlas dalam membantu menjalankan proses pendidikan serta para santri yang ikhlas dididik.

Jiwa ini menciptakan suasana kehidupan pondok yang harmonis antara kyai yang disegani dan santri yang taat, cinta dan penuh hormat. Jiwa ini menjadikan santri senantiasa siap berjuang di jalan Allah, di manapun dan kapanpun.

2.Jiwa kesederhanaan
Kehidupan di pondok diliputi oleh suasana kesederhanaan. Sederhana tidak berarti pasif atau nerimo, tidak juga berarti miskin dan melarat. Justru dalam jiwa kesederhanan itu terdapat nilai-nilai kekuatan, kesanggupan, ketabahan dan penguasaan diri dalam menghadapi perjuangan hidup.

Di balik kesederhanaan ini terpancar jiwa besar, berani maju dan pantang mundur dalam segala keadaan. Bahkan di sinilah hidup dan tumbuhnya mental dan karakter yang kuat, yang menjadi syarat bagi perjuangan dalam segala segi kehidupan .

3.Jiwa Berdikari
Berdikari atau kesanggupan menolong diri sendiri merupakan senjata ampuh yang dibekalkan pesantren kepada para santrinya. Berdikari tidak saja berarti bahwa santri sanggup belajar dan berlatih mengurus segala kepentingannya sendiri, tetapi pondok pesantren itu sendiri sebagai lembaga pendidikan juga harus sanggup berdikari sehingga tidak pernah menyandarkan kehidupannya kepada bantuan atau belas kasihan pihak lain .

Inilah Zelp berdruiping sy s te e m (sama-sama memberikan iuran dan sama-sama memakai). Dalam pada itu, Pondok tidaklah bersifat kaku, sehingga menolak orang-orang yang hendak membantu. Semua pekerjaan yang ada di dalam pondok dikerjakan oleh kyai dan para santrinya sendiri, tidak ada pegawai di dalam pondok .

4. Jiwa Ukhuwwah Diniyyah
Kehidupan di pondok pesantren diliputi suasana persaudaraan yang akrab, sehingga segala suka dan duka dirasakan bersama dalam jalinan ukhuwwah diniyyah. Tidak ada dinding yang dapat memisahkan antara mereka. Ukhuwah ini bukan saja selama mereka di Pondok, tetapi juga mempengaruhi ke arah persatuan ummat dalam masyarakat setelah mereka terjun di masyarakat.

5. Jiwa Bebas
Bebas dalam berpikir dan berbuat, bebas dalam menentukan masa depan, bebas dalam memilih jalan hidup, dan bahkan bebas dari berbagai pengaruh negatif dari luar, masyarakat. Jiwa bebas ini akan menjadikan santri berjiwa besar dan optimis dalam menghadapi segala kesulitan. Hanya saja dalam kebebasan ini seringkali ditemukan unsur-unsur negatif, yaitu apabila kebebasan itu disalahgunakan, sehingga terlalu bebas (liberal) dan berakibat hilangnya arah dan tujuan atau prinsip.

Sebaliknya, ada pula yang terlalu bebas (untuk tidak mau dipengaruhi), berpegang teguh kepada tradisi yang dianggapnya sendiri telah pernah menguntungkan pada zamannya, sehingga tidak hendak menoleh ke zaman yang telah berubah. Akhirnya dia sudah tidak lagi bebas karena mengikatkan diri pada yang diketahui saja.
Maka kebebasan ini harus dikembalikan ke aslinya, yaitu bebas di dalam garis-garis yang positif, dengan penuh tanggungjawab; baik di dalam kehidupan pondok pesantren itu sendiri, maupun dalam kehidupan masyarakat.

Jiwa yang meliputi suasana kehidupan Pondok Pesantren itulah yang dibawa oleh santri sebagai bekal utama di dalam kehidupannya di masyarakat. Jiwa ini juga harus dipelihara dan dikembangkan dengan sebaik-baiknya.