Slideshow

15 Apr 2012

UJian Nasional 2012

Jadwal pelaksanaan Ujian Nasional menurut Badan Standardisasi Nasional Pendidikan (BSNP) Teuku Ramli Zakaria menegaskan, tak ada perubahan jadwal Ujian Nasional 2012. Pelaksanaan Ujian Nasional tetap pada jadwal yang sudah diputuskan yaitu UN untuk tingkat SMA/MA akan mulai digelar pada 16-19 April 2012, dan UN susulan akan dilaksanakan pada 23-26 April. UN untuk tingkat SMK akan mulai digelar pada 16-18 April 2012, dan UN susulan akan dilaksanakan pada 23-25 April. Sedangkan untuk jenjang SMP/MTs dan SMPLB, UN akan dilaksanakan pada 23-26 April 2012, dan UN susulan akan berlangsung pada 30- 4 Mei 2012. Adapun untuk jenjang SD/MI/SDLB UN akan digelar pada 7-9 Mei 2012, dan UN susulan akan dilaksanakan pada 14-16 Mei 2012.

10 Apr 2012

BROSUR PSB 2012/2013

BROSUR PENERIMAAN SANTRI BARU PONDOK PESANTREN DARUL MUJAHADAH HALAMAN

Sejarah Berdirinya Darul Mujahadah

Perintisan mengenai berdirinya Lembaga Pendidikan Pondok Peantren Darul Mujahadah berawal dari ”gagasan H. Ali Ma’muri, BA beliau berasal dari desa Margasari kecamatan margasari kabupaten Tegal dan beliau adalah salah satu alumnus Pondok Pesantren Modern Dasrusalam Gontor pada tahun 1978. Gagasan beliau adalah mendirikan Lemabaga Pendidikan Islam yang berupa Pondok Pesantren Modern di desanya sendiri, akan tetapi karena berbagai hal ide itu belum dapat diwujudkan. Meskipun demikian hasrat untuk mendirikan Lembaga Pendidikan Islam yang berupa Pondok Pesantren Modern di kampung halamannya itu tidak pernah padam.
Kemudian di lain pihak pada akhir tahun depan puluh satuan, para orang tua/wali Murid se-Jawa Tengah, yang tergabung dalam Ikatan Wali Murid Pondok Pesantren Wali Songo Ngabar juga mempunyai gagasan untuk mendirikan pesantren di Jawa Tengah. Gagasan itupun lagi-lagi mengalami kegagalan. Satu di antara orang tua/wali Murid tersebut adalah seorang purnawirawan ABRI yang berdomisili di dukuh Kesambi desa Prupuk Selatan Kabupaten Tegal bernama Muhammad Barmawi, rupanya setelah secara kolektif mengalami kegagalan justru menimbulkan semangat baru untuk mendirikan pesantren di kampung halamannya sendiri. Apalagi kebetulan ada tanah miliknya seluas 2.500 m2 yang berlokasi di dukuh Kampung Baru desa Prupuk Kabupaten Tegal.” Memang seorang purnawirawan tersebut mempunyai niat dan hasrat yang sangat kuat, tetapi untuk mendirikan pesantren tidak serta merta segera terwujud, maklum saja karena ia bukanlah sosok seorang kyai yang mumpuni untuk kelak dapat memimpin sebuah pesantren. Ketika mengalami kebuntuan mencari figur kyai, ibarat pucuk dicinta ulampun tiba, H. Ali Ma’muri, BA mendengar informasi tentang hal ini, kemudian ia mencoba menghubungi seorang teman yang juga alumnus Pondok Modern Gontor, bernama H. Asrori Muhtarom yang ketika itu sedang mengabdi (ikut mengajar) di Pondok Pesantren Darunnajah Jakarta, beliau mengabdi di Pondok Pesantren Darunnajah Jakarta selama kurang lebih 15 tahun. H. Ali Ma’muri menyampaikan informasi itu dan mengatakan, bahwa di desa Prupuk ada tanah yang akan diwakafkan untuk keperluan pendirian Pondok Pesantren, dan kalau saja ada yang bersedia untuk memimpin pesantren itu maka akan segera diupayakan langkah-langkah selanjutnya. Pada kesempatan itu pula H. Ali Ma’muri meminta kesediaan temannya untuk berjuang memimpin pesantren di kampung halamannya, ternyata H. Asrori Muhtarom yang juga putra asli Margasari dan konon punya cita-cita ingin hidup dan mati di tengah-tengah Murid menerima tawaran tulus temannya itu. Setelah ada kesanggupan dari H. Asrori Muhtarom maka berhimpunlah beberapa tokoh masyarakat (kelak menjadi pengurus badan pendiri/ pengurus yayasan), bermusyawarah untuk menindaklanjuti gagasan pendirian pesantren. Pertemuan pertama para tokoh itu diadakan di kediaman Muhammad Sayyidi Margasari. Pertemuan itu menghasilkan kesepakatan dan kesepahaman untuk mendirikan Pondok Pesantren di desa Prupuk di atas tanah wakaf Muhammad Barmawi. Sebagai langkah awal adalah membentuk yayasan yang akan menaungi pesantren tersebut. Maka dipersiapkan rancangan anggaran dasar yayasan tersebut. Pertemuan berikutnya diadakan pada hari Kamis, tanggal 27 Desember 1990. Pada pertemuan itu rancangan anggaran dasar yayasan disempurnakan. Sesuai dengan keinginan dan musyawarah Yayasan dengan Pimpinan Pondok maka terbentuklah sebuah lembaga pendidikan Islam yang telah diberi nama Pondok Pesantren Darul Mujahadah. Kata “Darul Mujahadah” dibuat oleh KH. Asrori Muhtarom dengan melihat bahwasanya Beliau ingin agar Madrasahnya mempunyai persamaan kurikulum pembelajaran dengan Pondok Pesantren Darussalam Gontor Jawa Timur. Dengan menginginkan sebutan Pondok alumni Darussalam Gontor, maka dipakailah kata “Daar” (mayoritas Pondok Pesantren yang memilki kata “daar” adalah Pondok alumni Darussalam Gontor). Dan kata “Mujahadah” diartikan ke dalam bahasa Indonesia berarti “sungguh-sungguh”, kata tersebut diperoleh agar seluruh murid yang belajar di madrasah tersebut dapat belajar dengan sungguh-sungguh. Oleh karena Pondok Pesantren Darul Mujahadah berada di bawah naungan Yayasan Pondok Pesantren Darul Mujahadah maka namanya pun diperoleh darinya, menjadi Pondok Pesantren Darul Mujahadah. Atas usulan H. Asrori Muhtarom, disepakati nama yayasan ”Darul Mujahadah” yang berarti tempat perjuangan (sungguh-sungguh). Dan akhirnya yayasan itupun terbentuk dan berbadan hukum dengan Akta Nomor 55 pada seorang notaris di Tegal bernama Harjono Moekiran, SH. tertanggal 13 Februari 1991 Setelah yayasan memiliki azas legalitas, maka digalilah dana untuk keperluan pembangunan pesantren. Selama dua tahun, pembangunan asrama dan ruang belajar diprioritaskan, kemudian menyusul pembangunan kamar mandi, WC dan tempat wudlu. Pada tahun 1992 telah berhasil dibangun 2 (dua) unit bangunan masing-masing 3 (tiga) lokal untuk asrama dan ruang belajar serta 1 (satu) unit bangunan MCK (Mandi, Cuci, Kakus) Untuk melaksanakan langkah awal maka pada tahun 1992 guna memasuki tahun pelajaran 1992/1993 mulailah dibuka pendaftaran Murid pertama. Pada tahun pertama itu hanya ada sekitar 30an anak yang mendaftarkan diri sebagai Murid, dengan jumlah putra-putri yang berimbang. Dalam hal perkembangannya dikarenakan seiring dengan perjalanan waktu yang terus berjalan maka untuk menyeimbangkan perkembangannya, Madrasah Tsanawiyah Darul Mujahadah terus mengadakan usaha-usaha dalam hal peningkatan, baik lahan, bangunan maupun jenjang pendidikannya. Semuanya guna untuk meningkatkan mutu pendidikannya untuk bersaing dengan lembaga pendidikan lainnya. Dan sejalan dengan perkembangan sarana fisik, kapasitas Madrasah Tsanawiyah sampai saat ini telah mampu menampung murid mukim sejumlah 123 anak. Seiring dengan terus berjalannya waktu dari tahun ke tahun terus senantiasa mengalami peningkatan dalam hal penerimaan murid baru, namun senantiasa disesuaikan dengan kapasitas sarana prasarana yang ada, sebab sejak awal Pondok Pesantren ini berdiri, seluruh Murid wajib mukim di asrama, meskipun rumah mereka ada di sekitar pesantren. Hal ini tentunya didasarkan pada pertimbangan struktur, mekanisme, pengelolaan operasional, dan pelaksanaan fungsi lembaga pendidikan pesantren yang muaranya adalah peningkatan efektivitas dan efisiensi dalam pembangunan pendidikan secara menyeluruh, sesuai kebijakan pendidikan yang ditetapkan oleh pemerintah. Lembaga Pendidikan Pondok Pesantren Darul Mujahadah selanjutnya membuka Madrasah Tsanawiyah dan Madrasah Aliyah yang sampai saat ini telah menelurkan banyak alumnus yang tersebar ke berbagai universitas negeri dan swasta

13 Des 2010

Mengembangkan Imajinasi dalam Pendidikan

IMAJINASI dalam proses pendidikan sebenarnya sangat penting untuk dimiliki peserta didik. Meskipun demikian aspek ini banyak diabaikan oleh para pendidik dan guru kita dalam proses belajar-mengajar.
Mengapa imajinasi itu penting? Karena dengan imajinasi orang akan melahirkan sebuah konsep, kreatifitas, inovasi maupun perilaku yang actual dalam kehidupannya. Bahkan semua karya teknologi di dunia ini lahir selalu melalui proses imajinasi oleh para inventornya (penemunya-red). Bill Gates konon kerjanya bermimpi dan berimajinasi. Kemudian dia meminta para ahli yang dipekerjakannya untuk menerjemahkan mimpi dan imajinasinya itu ke dalam berbagai bentuk software komputer yang saat ini banyak membuat kita tergantung padanya.
Begitu juga rudal penghancur rudal sebelum mengenai sasaran, Patriot, merupakan hasil imajinasi Presiden Ronald Reagan ketika dia melihat serial film TV Star Wars. Dia pernah berpidato agar suatu saat Amerika memiliki sistem persenjataan mirip seperti star wars. Imajinasi dalam pidatonya itu akhirnya diberi dukungan politik oleh kongres, dan akhirnya juga didukung oleh riset di berbagai pusat penelitian. Hasilnya senjata perang ampuh; Patriot, sebuah peluru kendali yang bisa menjemput peluru kendali lain untuk ditaklukkan agar tidak mengenai targetnya. Begitu juga sistem suspensi mobil yang terkenal dan mahal, Lexus. Juga terlahir karena inventornya ketika menjenguk sahabatnya di rumah sakit mengetahui anak kecil melompat dari meja yang cukup tinggi dan jatuhnya amat indah, tidak oleng dan tidak terjungkal. Dari kejadian itu, inventor suspensi mobil mahal itu berimajinasi agar dia bisa menciptakan sistem suspensi yang empuk, stabil, aman dan nyaman dikendarai meski di jalan yang bergelombang tajam.
Karena pentingnya imajinasi itu, kita harus bisa menanamkannya pada anak-anak kita. Banyak cara yang bisa dilakukan. Di tingkat keluarga, melalui pendidikan informal, kita bisa memberi cerita kepada anak-anak kita sebelum tidur dengan berbagai cerita yang memiliki muatan moral, teknologi, kecakapan sosial, dan sebagainya. Dengan cerita yang mengesankan, anak-anak kita mulai membangun kesan dalam pikirannya yang akhirnya mampu membuat imajinasi kehidupan dalam alam pikirannya. Di negara-negara maju anak-anak dan juga siswa sekolah memang dengan sengaja dibangkitkan imajinasinya melalui berbagai program pembelajaran, baik yang bersifat intra maupun ekstra kurikuler. Dalam proses pembelajaran anak-anak usia sekolah dasar di kelas awal sudah mulai diperkenalkan berfikir imajinatif dan hipotetik dengan mengajak anak-anak untuk membangun cerita baik tertulis maupun lisan menganai apa yang terjadi 50 tahun yang akan datang di lingkungan keluarga mereka masing-masing. Setelah itu, mereka dibawa ke skopa yang lebih luas dan lebih dalam untuk berimajinasi mengenai misalnya: Apa yang terjadi bagi sistem demokrasi mereka 50 tahun yang akan datang? Apa yang akan terjadi pada sistem internet 50 tahun yang akan datang? Apa yang akan terjadi pada negara 50 tahun yang akan datang? Atau kalau mereka yang senang kehidupan seni, bisa diajak berimajinasi tentang apa yang akan terjadi pada trend lagu-lagu pop 50 tahun yang akan datang dan sebagainya.
Agar anak kita banyak memiliki imajinasi, kita bisa melakukan hal yang serupa dengan muatan-muatan yang kontekstual dengan lingkungan dan tantangan hidup mereka. Anak-anak kita dapat diajak berimajinasi mengenai apa yang terjadi, tidak usah terlalu jauh 50 tahun yang akan datang, tetapi cukup diajak berimajinasi pada tataran yang lebih pendek, 10 tahun misalnya, mengenai apa yang terjadi: setelah pemilu 2009; nasib penjual barang di pasar tradisional; lapangan kerja bagi tamatan sekolah; model pakaian; model HP; banyaknya motor di jalan dengan berbagai implikasinya; alternatif bahan bakar, bahkan bisa diajak berimajinasi mengenai bagaimana prestasi sekolah mereka 10 tahun yang akan datang.
Karena pentingnya imajinasi dalam proses pendidikan, pesawat ulang alik Amerika, Endeavor, yang telah balik ke Bumi tahun lalu juga telah sukses mengikutsertakan seorang guru, Barbara Morgan. Ketika di luar ruang angkasa Barbara membuat atraksi pembelajaran jarak jauh dalam arti yang sebenarnya dengan para siswa di Dicovery Center, di negara bagian Idaho. Dari ruang pesawat ulang alik Endeavor, Barbara menjawab berbagai pertanyaan imajinatif para siswa: bagaimana cara minum para astronot, bagaimana kecepatan bola base ball ketika dilempar tanpa ada gravitasi bumi, bagaimana mereka semua melakukan aktivitas sehari-hari dan sebagainya.
Sebenarnya tidak kali ini saja pesawat ulang alik Amerika mengikutsertakan guru untuk mengembangkan virus imajinasi di tengah-tengah para peserta didik. Bahkan sejak tahun 1986, seorang guru, Christa Mc Auliffe, juga telah dikirim ke luar angkasa dengan pesawat ulang alik Challenger, juga untuk membangun dan menyebarkan ‘virus’ imajinasi. Tetapi naas nasibnya, karena pesawat itu meledak sebelum kembali ke Bumi. Semangat Amerika untuk membangun imajinasi bagi siswa memang tak kunjung padam.
Bahkan NASA memiliki misi khusus untuk mengikutsertakan guru dalam penerbangan luar angkasanya, yaitu agar mampu membangkitkan imajinasi jutaan orang di seluruh dunia.
Itulah penting dan mahalnya sebuah imajinas. Sebenarnya kitapun bisa membangkitkan imajinasi anak-anak dan siswa kita dengan cara yang sangat murah dan efektif melalui proses pembelajaran di sekolah dan pendidikan informal di rumah.

Oleh: Prof. Suyanto, Ph.D
Direktur Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar & Menengah (Dirjen Mandikdasmen)

Sumber: Majalah Info Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah, Edisi III tahun 2009.

Memahami Bencana Alam

Bencana alam yang mendera, berbagai peristiwa yang memporak-porandakan umat manusia, makin membuka mata bahwa kita, manusia tidak punya kuasa apa pun. Namun, harus kita yakini bahwa Allah SWt pun tidak mungkin menjatuhkan bencana sekecil atau sedahsyat apa pun jika manusia itu tidak berperilaku buruk. Sebenarnya, manusialah yang menjadi penyebab terjadinya berbagai bencana di muka bumi ini. Temuan investigasi Komnas HAM (Hak Asasi Manusia) menyebutkan, banjir bandang Wasior misalnya, akibat human error (kesalahan manusia) karena terjadi eksploitasi besar-besaran atas tanah di daerah tersebut. Yaitu aktivitas penambangan yang tak memandang pesoalan ekologis.
Anehnya, masih ada pihak-pihak termasuk presiden SBY sendiri yang menganggap hal itu hanya sebatas bencana alam biasa atau faktor alam an sich. Entah karena alas an politis atau apa pun, seakan menutup mata atas keadaan di tanah Papua yang benar-benar telah dieksploitasi secara hebat karena terjadi penambangan yang cukup masif dan destruktif oleh korporasi asing atau manusia-manusia yang tak bertanggung jawab.
Masyarakat pun kadang melihat bahwa bencana alam itu terjadi atas kehendak Allah SWT yang dalam istilah teologis, keyakinan semacam itu disebut sebagai masyarakat agamis yang menggariskan sesuatu berdasarkan paksaan Tuhan (Jabbariyah). Mereka meyakini bahwa Allah murka kepada penduduk negeri yang di dalamnya terdapat orang-orang yang rajin dan pandai membuat serta memelihara dosa-dosa. Keyakinan semacam itu jelas berbahaya karena Allah akan dipersalahkan sebagai biang dari segala bencana di dunia. Dalam bahasa Gottfried Leibniz (Roth, 2003: 151), Tuhan di situ seakan-akan menjadi terdakwa (blaming the God) karena terjadinya bencana. Padahal, Tuhan tak sepantasnya dipersalahkan sebab kemuliaan dalam eksistensi-Nya tak terpengaruh dengan adanya dosa-dosa atau kebaikan-kebaikan manusia di dunia. Manusialah yang harus bertanggung jawab atas apa yang terjadi di dunia (blaming the men).
Dalam menjelaskan masalah bencana ala mini, mestinya masyarakat lebih menekankan pada teologi qodariyah, yaitu bahwa manusia diberi kehendak untuk berbuat sebebas-bebasnya tetapi manusia juga harus bertanggung jawab atas segala tindakan yang sudah diperbuatnya. Oleh karena itu, jika terjadi bencana alam sebetulnya itu merupakan cermin seakan-akan Allah mempertanyakan sudah berbuat dan bertindak apa saja manusia di bumi ini.
Hasan Hanafi dalam karyanya Religion, Ideology and Developmentalism (1990) menawarkan apa yang dikenal sebagai teologi untuk memperlakukan bumi. Bagaimana semestinya bumi diperlakukan? Menurut Hanafi, bumi merupakan ciptaan Allah yang harus dikelola manusia secara baik dan benar.
Tak ada satu pun manusia yang sesungguhnya mengklain memiliki barang sejengkal pun terhadap bumu karena bumi ini milik-Nya. Oleh karena itu, tak dibenarkan jika manusia menjadi arogan ketika merasa memiliki tanah di bumi, seperti aktivitas penambangan yang eksploitatif, pengeboran atas kekayaan perut bumi yang semena-mena, pengerukan pasir laut dalam skala yang cukup besar, penggundulan hutan dan lain sebagainya. Segala tindakan dan perbuatan manusia itulah yang kemudian lambat laut akan membuat alam menjadi murka sehingga fenomena bencana alam tak bisa dihindarkan. Hal itu sesuai dengan firman Allah dalam surat Ar-Rum: 41:
“Kerusakan di darat dan di laut yang tampak disebabkan oleh perbuatan tangan manusia. Maka, sebagai akibat dari perbuatannya (datanglah bencana) supaya manusia merasakan sebagian dari ulah dan perbuatannya agar mereka kembali ke jalan yang benar.”

Ditulis Oleh: Sultoni, S.Pd.I.
Pengajar di Ponpes Darul Mujahadah(Alumni Perdana Ponpes Darul Mujahadah, Alumnus ISID Gontor 2003